Nov 16, 2011

Legong Mintaraga @Lara Djonggrang Menteng Jakarata





Penata tari : Dr. A. A. Ayu Bulantrisna Djelantik , Ph.D,Sp.THT
Penata gending : Wayan Darya
Penari :
- Ni Nyoman Trianawati (Arjuna)
- Nurlya (Yudistira / Dewi Supraba )
- Putri Minangsari (Bhima / Satria misterius )
- I Made Gethavia (Tjondong / Dewa Syiwa / Celeng Raksasa)
- Puteri Miranti Ningrum (Nakula / Bidadari)
- Adrienna Wallis (Sadhewa / Celeng Raksasa )

Bengkel Tari Ayu Bulan pertama kali dibentuk pada tahun 1994 oleh Dr. A.A. Ayu Bulantrisna Djelantik, Ph.D ---- seorang pakar Legong sekaligus pakar subspesialis telinga. Dalam acara Indonesia's Culture Dining Series malam hari ini, beliau menampilkan salah satu karyanya, “Legong Mintaraga”, dimana tarian ini dibuat pada tahun 1997 untuk (6) enam penari dengan gaya khas Peliatan.
Sesuai dengan konsep Legong, setiap penari dapat berubah peran, tanpa berganti busana, dengan atau tanpa atribut. Walaupun terikat dengan aturan ketat tarian, setiap penari tetap dapat membawakan watak karakter dengan penjiwaan tari yang mendalam. Tarian ini menggambarkan petikan Arjuna Wiwaha karangan Empu Kanwa, seorang pujangga pada abad ke-13. Cerita ini menggambarkan tentang Pandawa 5 (lima) bersaudara yang terusir dari kerajaannya. Saat mereka mengembara di dalam hutan, Arjuna menerima petuah dari orang suci, Bhagawan Abhyasa – untuk meninggalkan saudara-saudaranya dan bertapa di dalam gua bernama Mintaraga guna mendapatkan pertolongan dari Yang Kuasa. Arjuna teguh menghadapi cobaan rayuan para bidadari - yang turun dari kahyangan dipimpin Dewi Supraba. Ia baru terbangun dari tapanya oleh serangan Celeng Raksasa dan bertanding dengan Satria misterius cobaan para Dewa. Atas keteguhannya, Arjuna mendapat senjata Pasopati yang akan melindungi Arjuna dan saudaranya (Pandawa) di kemudian hari. Senjata itu akan digunakan oleh Arjuna dan saudara-saudaranya untuk mendapatkan kembali kerajaan mereka.
Karya ini menyajikan perlunya keteguhan hati mengalahkan hawa nafsu duniawi agar menjadi pemimpin yang baik.

Oct 21, 2011

Legong Mintaraga




Indonesia's Cultural Dining Series di Lara Djonggrang Restaurant pada tanggal 12 November 2011 akan menampilkan Legong Mintaraga yang menceritakan tentang Arjuna Wiwaha karangan Empu Kanwa, seorang pujangga pada abad ke-13.

Dalam pewayangan, Arjuna disebut sebagai Begawan Ciptaning atau Begawan Mintaraga ketika bertapa. Kegundahan dan kegigihan Sang Arjuna sebelum memasuki pertapaan diiringi dengan gamelan yang mencoba mengadaptasi cuplikan "Nocturne" dalam "Tabuh-tabuhan" komposisi Colin Mc Phee. Arjuna teguh menghadapi cobaan rayuan para bidadari yang turun dari kahyangan dipimpin Dewi Supraba. Ia baru terbangun dari tapanya oleh serangan Celeng raksasa dan bertanding dengan Satria misterius cobaan para Dewa. Atas keteguhannya Arjuna mendapat senjata Pasopati yang akan melindungi Arjuna dan saudaranya (Pandawa) di kemudian hari. Karya ini menyajikan perlunya keteguhan hati mengalahkan hawa nafsu duniawi agar menjadi pemimpin yang baik.

Tarian ini dibuat untuk enam penari dengan gaya khas Peliatan. Sesuai dengan konsep Legong, setiap penari dapat berubah peran, tanpa berganti busana, dengan atau tanpa atribut. Walaupun terikat dengan aturan ketat tarian, setiap penari tetap dapat membawakan watak karakter dengan penjiwaan tari yang mendalam.

Penata tari: Ayu Bulantrisna Djelantik
Penata gending: Wayan Darya
Penari: Getha, Puteri, Nana, Nurlya, Mimi, Rienna

Jan 19, 2011

Kelas Tari Anak-anak SMESTA


Menari tidak selalu diterapkan untuk remaja dan dewasa, namun kami mencoba untuk mengajarkan ritme dan mengasah kemampuan motorik anak-anak. Berpijak dari situasi dan kondisi kami yang telah memiliki anak, maka kami memberanikan diri untuk membuka kelas tari Smesta. Kelas Smesta diperuntukkan untuk anak-anak mulai usia 6 tahun, pada awal pembukaan. Seiring dengan amanah yang, Alhamdulillah, kami terima dari para orang tua siswa, maka kami dengan tangan terbuka menerima anak-anak berumur 3 th keatas untuk belajar menari bersama kami.
Foto diatas saat anak-anak Smesta ikut pentas dalam Metamorfosa Legong di Bumi Sangkuriang Bandung.

Nov 11, 2010

Legong Lasem

Legong ini yang paling populer dan kerap ditampilkan dalam pertunjukan wisata. Tari ini dikembangkan di Peliatan. Tarian yang baku ditarikan oleh dua orang legong dan seorang condong. Condong tampil pertama kali, lalu menyusul dua legong yang menarikan legong lasem. Repertoar dengan tiga penari dikenal sebagai Legong Kraton. Tari ini mengambil dasar dari cabang cerita Panji (abad ke-12 dan ke-13), menceritakan tentang keinginan raja (adipati) Lasem (sekarang masuk Kabupaten Rembang) untuk meminang Rangkesari, putri Kerajaan Daha (Kadiri), namun ia berbuat tidak terpuji dengan menculiknya. Sang putri menolak pinangan sang adipati karena ia telah terikat oleh Raden Panji dari Kahuripan. Mengetahui adiknya diculik, raja Kadiri, yang merupakan abang dari sang putri Rangkesari, menyatakan perang dan berangkat ke Lasem. Sebelum berperang, adipati Lasem harus menghadapi serangan burung garuda pembawa maut. Ia berhasil melarikan diri tetapi kemudian tewas dalam pertempuran melawan raja Daha.
Tarian ini dibawakan oleh Keni Kurniasari sebagai Condong & Garuda, Puteri Miranti Ningrum sebagai Raja Lasem, dan Manik Permatasari sebagai Rangkesari.

Legong Kuntul




Legong Kuntul termasuk dalam jenis Legong non-dramatik yang menggambarkan keanggunan burung bangau di tengah sawah. Setelah lama tidak ditarikan, pada tahun 70-an, tarian ini direka kembali berdasarkan ingatan oleh ibu Reneng dan Anak Agung Raka Saba. Melodi dan gerakan yang sangat khas memperindah keseluruhan tarian yang sangat klasik ini.



Tari Pendet


Tari Pendet mengawali pagelaran Metamorfosa Legong di Bumi Sangkuriang Bandung. Dibawakan oleh Vivi Azhar, Riri Azhar, Ayomi, dan Putu Widi, dalam balutan kain Pendet dipadukan dengan selendang tari Tenun, menjadi corak unik yang cantik. Bokor sebagai wadah tempat bunga-bunga dihiasi dengan untaian janur karya grup Sang Putu.

Bharatnatyam Dance Workshop

Belajar tari India dengan Ms. Neha Pattel dari USA. Kali ini Bengkel Tari bekerja sama dengan Tabla, ternyata workshop ini banyak diminati. Dari sesi terecana cuma 2 jam, molor hingga 4 jam, karena antusiasme peserta!

Jan 23, 2008

Dan Bedaya-Legong Pun Menyatu di Taman Ismail Marzuki



Retno Maruti (kiri) dan Ayu Bulantrisna Djelantik dalam pementasan "The Amazing Bedaya-Legong". [Pembaruan/Luther Ulag]
- Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta Jumat (21/4) sore.
Dua maestro tari klasik di Indonesia, Retno Maruti dan Ayu Bulantrisna Djelantik pemantiknya. Keduanya, bersama 16 penari lainnya tampil membawakan pentas tari The Amazing Bedaya-Legong dengan lakon Calonarang.
Kedelapan belas penari, sembilan penari Bedaya, dan sembilan penari Legong, seolah tengah memberikan tafsir baru wajah budaya daerah, Jawa dan Bali, serta wajah kebudayaan Indonesia. Para penari klasik Jawa yang membawakan tari Bedaya tidak merasa canggung saat harus menari dengan iringan gamelan Bali dan begitu pula sebaliknya. Ayu Bulantrisna Djelantik bersama penari-penari Legongnya, mampu bergerak harmonis dalam iringan gamelan Jawa nan anggun. Hasilnya, garapan memikat yang baru pertama kalinya tampil di bumi Indonesia sepanjang sejarah Republik ini.
Kekompakan para penari, baik penari Jawa maupun Bali, mendapat dukungan kuat dari panabuh gamelan. Penabuh gamelan Bali tampak duduk di sayap kiri panggung dan penabuh gamelan Bali di sebelah kanannya jika dilihat dari arah penonton. Tirai tipis yang membatasi barisan penabuh gamelan dengan delapan belas penari, memberikan kesempatan luas bagi penonton untuk melihat para penabuh itu.
Penonton sulit membandingkan penari dari kelompok mana yang tampil lebih baik dari kelompok lainnya. Penari tari Bedaya dari Jawakah? Penari Legong dari Balikah yang lebih baik? "Sudah saatnya kita tidak sibuk mencari perbedaan. Saatnya kini kita hidup dalam perbedaan dan saling mengisi satu sama lainnya. Kami dari Padnecwara merasa bahagia Bulantrisna dan kawan-kawannya mau berkolaborasi,'' ungkap Retno sebelum pertunjukan.
Hasil Obrolan
The Amazing Bedaya-Legong memang tidak lepas dari pembicaraan Retno Maruti dengan anaknya, Rury Nostalgia, soal rencana memperingati ulang tahun komunitas seni Padnecwara ke-30. Hasil obrolan dalam mobil pertengahan 2005 itu melahirkan ide yang nyaris mustahil. Mengajak maestro tari Legong dari Bali, Bulantrisna berkolaborasi. Nyaris mustahil karena sempitnya waktu. Nyaris tidak mungkin terlaksana karena Bulantrisna tinggal di seberang lautan, nun jauh di Amerika Serikat bersama keluarganya sekaligus bekerja sebagai konsultan ahli WHO, Badan Kesehatan Dunia. Tapi, kekuatan cinta di antara kedua perempuan, Retno dan Bulantrisna, mengalahkan jarak. Kedua sahabat yang sering melanglangbuana bersama saat berusia sekitar 20 tahunan di era Bung Karno itu, akhirnya sepakat untuk tampil bersama. Dua bulan setengah lalu, Bulantrisna malah terbang ke Jakarta dan tinggal sementara di Indonesia dengan satu tujuan, berlatih bersama untuk pementasan pada 21-23 April.
Semua penari, penabuh gamelan dan semua pendukung kegiatan berlatih dua kali seminggu di sebuah gedung di Jalan Kimia, Jakarta Pusat, atau di lantai tiga gedung Institut Kesenian Jakarta. Hasilnya, pertunjukan yang sudah sepatutnya menjadi catatan sejarah tari di Indonesia bahkan mungkin sejarah kebudayaan Indonesia. Padnecwara, sebuah komunitas penggiat seni Jawa yang berada di Indonesia sudah selayaknya mendapat penghormatan atas idenya untuk menggandeng penari-penari Bali. Langkah Retno yang sama sekali tidak suka berbicara politik, sebenarnya bisa ditafsirkan sebagai aksi politiknya untuk memberi tafsir atas makna keindonesiaan.
Bhinneka Tunggal Ika
Pertunjukan semalam juga bisa diartikan sebagai upaya Retno, Bulantrisna dan kawan-kawannya untuk memberi makna pada semboyan sakral bangsa Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda-beda namun satu yakni Indonesia.
Para pemimpin Republik ini selayaknya bisa belajar banyak dari adegan tari saat sembilan penari Bedaya masuk ke tengah-tengah penonton dari pintu samping. Mereka berjalan di tengah penonton menuju atas panggung. Di bibir panggung, dua penari Legong menjemput mereka. Dua penata musik, I Gusti Kompyang Raka asal Bali dan Lukas Danaswara dari Solo seolah sudah sejiwa. Mengiringi gerakan para penari. Mereka saling mengisi.
Suasana mistis agak terasa di bagian awal pertunjukan saat terdengar suara rebab, gender barung, gambang dan nyanyian perlahan suara penyanyi Jawa.
Di atas pentas, Retno Maruti yang memerankan tokoh Empu Barada dan Bulantrisna yang memerankan tokoh Calonarang dengan menggunakan topeng menyeramkan pemberian kolektor topeng Beli, Emily Gandanegara seolah menghidupkan lagi lakon terkenal dari Bali. Dari Bali? Bisa jadi tidak seluruhnya benar karena kisah itu tidak lepas dari sosok Raja Erlangga, raja ternama dari tanah Jawa.
Lepas dari persoalan itu, sebagaimana yang dikemukakan Retno kepada Pembaruan dalam berbagai kesempatan, lakon Calonarang yang ia pilih merupakan upayanya untuk mengajak semua orang mengurangi sifat mencari kesalahan dan perbedaan, namun mencari titik temu persamaan.
Pernyataan Retno direfleksikan dalam pilihannya atas warna kostum pakaian. Corak kelengen yang didominasi warna hitam dan putih mendominasi pakaian penari Bedaya. Sementara pakaian penari Legong lebih cerah lagi. Perbedaan warna, perbedaan antara gerak tari Jawa yang cenderung lambat namun anggun dengan tari Bali yang dinamis dan diwarnai gerakan kejutan, menyatu dalam rangkaian tata gerak yang indah.
Saat penari Bali meliuk-liuk dengan cepatnya, dari pojok belakang panggung sembilan penari bergerak anggun tanpa mengangkat kaki. Mereka menggeser-geserkan kedua kakinya. Membelah panggung secara diagonal. Hasilnya komposisi gerak dan pengisian panggung yang apik.
Di akhir pementasan, lampu yang terasa redup mengiringi para penari. Setiap penari memegang dua dupa yang menyala. Nyala api kecil dari 36 batang dupa memberikan efek pandangan yang unik. Belum lagi wangi dupa yang sempat menyambar hidung penonton.
"Sejak kecil saya bermimpi bisa bermain bersama Ibu Bulan. Tuhan Mahabaik. Saya sekarang menari bersama Ibu Bulan dan malah bersama dengan Ibu Retno Maruti. Saya dan pasti teman penari lainnya pasti merasakan betapa keduanya tengah mencoba mengajarkan arti penting budaya daerah. Saya bangga menjadi orang Indonesia," kata salah seorang penari Legong kelahiran Jakarta, Arita Sofia, yang lahir dari keluarga Jawa. [Pembaruan/Aa Sudirman]

Dec 3, 2007

Legong Witaraga, a story of Arjuna Wiwaha

Pementasan Drama Legong kisah Arjuna Wiwaha 'Witaraga' oleh bengkel tari Ayu Bulan di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 26 September 2002.


Photograph by Nirfan Rifki

Mengenang Sang Guru

Rabu, 29 Agusut 2007 8:00p.m. di Peliatan Palace, Peliatan
Performance by Bengkel AyuBulan,Jakarta & Genta Bhuana Sari, Tirta Sari

Cuplikan Press Release 21 Juli 2007:

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena atas rahmatnya kami para murid dari Maestro Tari dan Tabuh Anak Agung Gde Mandera dan Gusti Made Sengog dapat berkumpul dengan maksud mengadakan serangkaian acara sebagai penghormatan, kasih sayang, dan rasa terima kasih atas semua ilmu dan pengalaman yang telah kami dapatkan dari kedua tokoh ini melalui proses pembelajaran dan pertunjukan pada masa lalu, dengan acara yang bertajuk “MENGENANG SANG GURU - A Tribute to Anak Agung Gde Mandera and Gusti Made Sengog”. Selain bertujuan memberikan penghargaan sedalam-dalamnya, juga mengembalikan kenangan kepada masyarakat, disertai harapan agar “gaya Peliatan” yang diajarkan Biang Sengog dan Gungkak Mandera tidak dilupakan, tetap dicintai dan dipelihara sebagai salah satu bentuk dalam khasanah seni pertunjukan Bali.


1. Tabuh Tirta Sari TIRTA SARI
2. Tari Legong Kuntul Putih TIRTA SARI
Penari : Melati Blanca Danes, Made Getafia, Prita Delia, Putu Apsari, Kadek Asri,
Kadek Hartini
3. Oleg Tamulilingan TIRTA SARI
Penari : Gusti Ayu Raka, AA Gde Oka Dalem
4. Tari Kebyar Terompong GENTA BHUANA SARI
Penari : A.A Gde Bagus Mandera Erawan
5. Tabuh Sekar Jepun GENTA BHUANA SARI
6. Tari Legong Mintaraga[Arjuna Metapa] GENTA BHUANA SARI
Karya : A.A.Bulantrisna DjelantikPenari : Nana, Nurlya, Mimi, Rienna, Cicilia, Bulan

Ayu Bulantrisna Djelantik Menari, Otak Kiri dan Kanan Berjalan dengan Baik



Interview with Bali Post, 1 May 2005



Banyak orang mengenal Dr. dr. Ayu Bulantrisna Djelantik ini sebagai seorang dokter ahli THT dan bekerja di Badan Kesehatan Dunia WHO. Namun, banyak juga orang yang tidak mau mengenalnya sebagai dokter, melainkan sebagai mantan penari Legong yang jempolan. ''Saya tidak akan pernah lupa, semua itu karena berkah dari kakek,'' ujar cucu Raja Karangasem, putri pertama dari pasangan Dr. A.A. Made Djelantik dan Astri Zwart ini. Belajar menari serta langsung pentas pada usia tujuh tahun, ibu tiga anak dan nenek tiga cucu ini mengaku sering ''ketagihan'' menari di sela-sela kesibukannya di bidang medis. ''Kalau sudah menari, saya ketagihan, susah dihentikan,'' aku wanita kelahiran Nederland, 8 September 1947 ini. Berikut wawancara Bali Post dengannya.
-----------------
BAGAIMANA Anda tertarik menekuni seni tari khususnya Legong?
Boleh dibilang saya bermuka dua. Sebagian orang mengenal saya sebagai seorang dokter ahli THT dan bekerja di Badan Kesehatan Dunia WHO. Juga ada sekelompok orang yang tidak mau mengenal saya sebagai dokter, melainkan mengenal saya sebagai mantan penari Legong. Saya tidak akan pernah lupa, semua itu karena berkah dari kakek saya yang seorang Raja Karangasem. Beliau memiliki keinginan yang luhur, mengumpulkan semua cucunya untuk belajar tari. Beliau khusus mendatangkan seorang guru tari. Saya belajar menari saat umur tujuh tahun dan mulai pentas saat menginjak usia tujuh setengah tahun. Setelah belajar menari, ternyata sangat menyenangkan. Bahkan saya menjadi ketagihan, susah dihentikan. Walau sekarang sudah punya tiga cucu, saya tetap menari.

Tari apa yang pertama kali Anda pelajari?
Tari Condong Kebyar yang saat ini keberadaannya mungkin sudah punah. Tari Condong Kebyar mirip seperti Panjisemirang. Setelah mendapatkan tari Condong Kebyar, selanjutnya saya mempelajari berbagai jenis tari, termasuk tari Baris. Kalau pentas, saya menarikan Oleg Tamulilingan sebagi "laki"-nya, sedangkan yang menjadi "wanita"-nya adalah saudara sendiri. Saat itu ada tiga tarian yang sering saya pentaskan seperti Oleg Tamulilingan, Baris dan Condong Kebyar.

Ketika Anda masih anak-anak apa sudah sering pentas?
Ya. Umur sembilan tahun saya ikut bapak yang bertugas di London dan Belanda. Selama enam bulan saya bersekolah di sana. Diketahui bisa menari Bali, saya kemudian diminta untuk menghibur orang-orang di sana. Mendapat pentas di luar negeri, hati saya tentu menjadi senang. Dan saking senangnya, datang dari luar negeri saya mendalami tari Legong Peliatan, Ubud. Tidak hanya itu, saya juga sempat belajar pada Pak Kakul dan memperdalam tari Oleg Tamulilingan bersama Pak Mario. Memang beliau-beliau ini memberikan ilmunya secara profesional. Bahkan saya masih memiliki foto yang dipegang sama Pak Mario saat berlatih tari Oleg. Umur 10 tahun saya sudah dikenal sebagai penari Legong gaya Peliatan. Pada zaman Presiden Soekarno, saya sering diundang menari untuk menghibur tamu-tamu negara di Istana Presiden Tampaksiring, Gianyar. Lalu, setelah umur 12 tahun, saya diundang menari di Istana Presiden di Jakarta. Saat itu saya bergabung dengan salah satu grup kesenian dari Bali.

Bagaimana dengan studi atau pendidikan tinggi Anda?
Tahun 1965, saya ke Bandung melanjutkan kuliah kedokteran. Menariknya, walau dalam keadaan kuliah saya selalu diikutkan sebagai anggota misi kesenian tradisional Bali ke luar negeri. Misalnya ke Kamboja, Pakistan, Cina, Korea dan Jepang. Bahkan ini dilakukan berulang-ulang. Jadi sambil kuliah saya bisa mengikuti misi kesenian. Ya, untung saja saya diberikan izin khusus dari bapak Menteri Pendidikan saat itu, sehingga dekan di kampus saya juga ikut-ikutan memberikan izin. Walau meninggalkan kampus, tetapi saya tidak pernah lupa dengan tanggung jawab sebagai mahasiswa. Agar tidak ketinggalan, di mana pun acara pentas saya selalu menyempatkan diri untuk membaca buku kedokteran yang tebal itu. Sebelum mendapat giliran pentas, saya belajar di belakang panggung. Terakhir, saya menari Expo di Osaka Jepang selama tiga bulan. Setelah menikah pada 1971, saya putuskan untuk berhenti menari. Ternyata tidak bisa. Ada saja yang membuat saya menjadi menari. Bahkan saat hamil empat bulan pun saya juga bisa menari.

* * *

ANDA tidak hanya menari, tetapi juga mendirikan sebuah bengkel tari yang mengumpulkan anak-anak muda untuk diajak berlatih tari khususnya Legong. Nah, mengapa Anda lakukan itu?
Selama itu saya selalu menjadi penari untuk orang lain. Tahun 1992, tiba-tiba timbul keinginan saya menari bukan untuk orang lain. Saya ingin memiliki grup kesenian sendiri yang bisa menampung penari-penari lain dan bisa berbuat sesuai dengan kemauan sendiri. Saya menampung anak-anak muda dari segala agama dan segala etnis untuk memperdalam tari Bali khususnya tari Legong. Dalam proses belajar ini saya memanggil seorang guru tari yang dapat memberikan segala macam tari Legong.

Setelah sanggar tari terbentuk, apa saja yang Anda lakukan?
Khusus untuk tari Legong, kami pernah mengadakan Pekan Apresiasi Legong di Bandung pada 1994. Dalam apresiasi ini merupakan pertama kali muncul dengan grup sendiri dengan nama Bengkel Tari Ayu Bulan. Sambil sibuk mempersiapkan acara itu, saya juga sedang mengikuti kuliah Doktor PSB di Belgia. Tentu sangat sibuk.

Dalam pekan apresiasi itu, mengapa mengambil tari Legong, bukan jenis yang lain?
Keinginan saya hanya memperkenalkan tari Legong. Saya melihat, banyak orang yang tidak mengenal Legong sesungguhnya. Namun, banyak yang menggunakan Legong sebagai ikon. Misalnya dipakai di postcard, poster, kalender termasuk juga di TV. Sesungguhnya mereka tidak mengerti apa makna dan apa maksud seni legong secara mendalam. Melalui apresiasi inilah saya ingin memperkenalkan Legong kepada semua orang, sehingga mereka menjadi tahu. Makanya, dalam apresiasi itu juga dilengkapi dengan diskusi yang menghadirkan pakar tari Bali seperti Bu Edy, Pak Dibia dan anak-anak muda yang menjadi sasarannya.

Menurut Anda, bagaimana perkembangan tari Legong di Bali sekarang?
Saya senang dengan makin banyaknya kreasi tari Legong. Berarti Legong makin digali dan disesuaikan dengan zamannya. Sayang sekali bahwa masih sangat langka penulis kritik seni tari. Padahal kritik itu dapat memberi penilaian suatu koreografi dan juga memberikan masukan yang mendidik masyarakat tentang berapresiasi seni.

Mempelajari berbagai Legong dari yang kuno hingga terbaru, apakah Anda merasakan ada perbedaannya?
Kalau perbedaannya, mungkin mengikuti perkembangan zaman. Legong yang sekarang sudah jelas berubah. Perubahan itu salah satunya disebabkan dengan adanya tata panggung dan sebagainya. Dulu, Legong ditarikan di bawah pohon bersamaan dengan upacara ritual. Tetapi sekarang sudah merupakan apresiasi seni sendiri yang ditampilkan di panggung untuk hiburan. Panggung sebagai tempat pentas juga mengalami perubahan. Kalau dulu berbentuk kalangan yang memanjang, tetapi sekarang sudah berbentuk stage yang melebar. Tetapi, biarkan saja, ini memang harus mengikuti zaman.

* * *

SELAIN menjadi penari, Anda juga seorang koreografer?
Saya merasa senang karena di luar Bali juga banyak ada kantong-kantong budaya yang mendalami Legong serta yang kreasi. Saya bukan sendiri menciptakan tari, tetapi kami buat beramai-ramai. Awalnya menunjukkan diri sebagai pencinta Legong (1994), kemudian menciptakan tari Legong Asmarandana (1996) dengan melibatkan sekitar 20 penari yang menceritakan bagaimana Dewa Asmara itu terbakar dan abunya menjadi bibit cinta yang kita kenal sekarang. Kemudian membuat Legong Witaraga yang koreografernya seorang STSI Bandung, sedangkan idenya dari saya. Bahkan tari ini sudah pernah dipentaskan di Jakarta dan Bandung. Legong Witaraga yang diciptakan pada 2002 menceritakan Arjunawiwaha yang memiliki nama lain Witaraga. Penarinya ada sekitar 20 orang yang penampilannya selalu berubah-ubah, tetapi tidak ada perubahan kostum. Kadang-kadang menjadi bidadari, atau menjadi Pandawa. Intinya, tampilannya abstrak. Dia berubah peran tetapi tidak mengganti kostum.

Sebagai seorang dokter, penari, pelatih serta koreografer bagaimana cara Anda mengatur waktunya?
Kalau mengatur waktu kan ada hari Minggu, ada Sabtu dan juga ada malam. Memang sekarang saya menjadi lebih sibuk. Mungkin dua-duanya tidak sempurna, tetapi dua-duanya tetap bisa jalan.

***

SEBAGAI orang puri yang sudah lama meninggalkan tanah kelahiran, bagaimana Anda melihat Puri Karangasem sekarang?
Saya hanya mau orang-orang Bali mengetahui bahwa Puri Karangasem sudah diganti dengan generasi muda yang sudah jauh dengan hal-hal yang feodal. Bahkan kami sudah hidup di dunia lain, tidak seperti dulu atau pada zaman kakek. Mudah-mudahan makin lama masyarakatnya makin demokratis. Hal ini juga bisa dilihat pada ayah saya sebagai bagian generasi di bawah raja yang sudah tidak menyenangi hal-hal yang feodal itu. Kekuasaan oleh seorang raja itu tidak ada sama sekali, walaupun feodal dalam bentuk lain itu masih ada. Hanya sekarang pelan-pelan kekuasaan itu harus pindah ke rakyat. Sebagai keluarga puri, saya sangat menyadari sekali. Dan yang sangat terkesan adalah sifat adilnya. Buktinya dari zaman tante saya, semua anak yang perempuan disekolahkan juga. Boleh sekolah ke Jawa ataupun di Bali. Diberikan kesempatan itu, akhirnya banyak yang menjadi wanita sukses, seperti ada yang menjadi ahli filsafat dan ada anak perempuan menjadi salah satu hakim agung senior di Jakarta. Jadi kakek saya tidak pernah membeda-bedakan anaknya.

Lalu, kenapa Anda memilih menjadi dokter?
Lucu sekali itu. Dulu saya melihat kakak-kakak Legong itu pada umur-umur tertentu berhenti menari karena kawin, kemudian membuat warung kopi. Sehingga banyak yang mengatakan pedagang itu mantan penari Legong. Hal ini hampir semua dilakukan oleh kakak-kakak Legong generasi sebelum saya. Dengan kejadian itu saya ingin menunjukkan bahwa penari itu bukan orang bodoh. Bahkan penari itu adalah orang yang sangat berisi. Jadi saya tidak menghalangi diri untuk bersekolah terus. Bahkan saya merasakan dengan menari pelajaran itu bisa lebih maju. Buktinya, dulu saya pernah menjadi bintang pelajar SMP se-Bali. Dengan menari, selain otak kiri, otak kanan juga berjalan dengan baik. Anehnya, kalau malamnya menari besoknya saya pasti mendapat nilai sepuluh. Padahal tidak dapat tidur. Saat menjadi siswa SMA, saya kembali dicalonkan menjadi bintang pelajar. Tetapi sayang, pada saat itu saya harus berangkat ke luar negeri membawa misi kesenian. Atau menjadi dokter mungkin juga karena saya sebagai anak pertama yang harus bertanggung jawab atau mungkin juga karena ayah saya juga seorang dokter.

* pewawancara: budarsana

The Amazing Bedaya - Legong


At the backstage - after our performance CALONARANG
Esplanade Singapore, February 2007.
Our smiling has just brighten the day!
Our hard times are meaningful and we did it!

We are: Rina, Mimi, Muti, Komang, Lya, Nana, and Putri (left to right)